Kami, mahasiswa-mahasiswi mu, kini tengah menghadapi kesulitan menjelang Ujian Akhir Semester. Kesulitan itu sebenarnya bukan soal uang kuliah, karena tentu saja uang tersebut sudah dibayarkan sebagai persyaratan mengikuti Ujian Tengah Semester yang lalu. Kesulitan ini adalah tentang jumlah kehadiran 75% dari total seluruh pertemuan (seharusnya). Jadi, misalnya dalam satu semester ada 20 pertemuan, kami harus mengikuti minimal 15 pertemuan, bukan? Bagaimana jika pertemuan (seharusnya) itu dikurangi oleh ketidakhadiran dosen? Misalnya saja, dosen tidak hadir 3x. Berarti, kami hanya bisa mengikuti 12 pertemuan saja dari total 20 pertemuan. Dan itu tidak memenuhi quota 75% dari persyaratan yang berlaku, bukan? Lalu, bagaimana kami bisa mengikuti Ujian Akhir Semester pada 10-21 Januari 2011 mendatang? Untuk kelas ganti, biasanya dosennya sendiri yang tidak mau mengadakan kelas penggantinya.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Kami, mahasiswa-mahasiswi mu, prihatin dengan segala janji manis yang engkau berikan untuk menarik minat kami sebelum kami mendaftarkan diri padamu. Kamu bilang, fasilitas semua oke. Laboratorium komputer yang memenuhi syarat, dan sebagainya. Ya, itu memang betul. Tapi bagaimana dengan kreatifitas kami? Yang bahkan lebih sering terkubur dalam-dalam bahkan sebelum sempat diutarakan. Pendanaan untuk kegiatan yang sudah direncanakan dan dianggarkan melalui RKT (Rencana Kerja Tahunan) pun lebih sering susah untuk di-approve. Apalagi kalau misalnya melebihi anggaran. Pasti akan dipotong. Padahal, untuk menyusunnya saja kami sudah melalui banyak proses dan pertimbangan-pertimbangan yang tidak sedikit. Karena semuanya sebenarnya adalah untuk kebutuhan kreatifitas kami. Lalu, jika kami kekurangan dana begini, kami harus mencari sponsor sendiri untuk pendanaannya? Sebenarnya tidak masalah. Toh itu juga akan mengajarkan pada kami bagaimana berusaha sendiri. Hanya saja, kami menuntut apa yang sudah engkau janjikan sebelumnya.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Bagaimana dengan nasib kawan-kawan kami, mahasiswa-mahasiswi mu, yang memiliki kekurangan? Misalnya saja tunanetra. Mereka juga mahasiswa mu kan? Setiap semester mereka membayar sekian ratus ribu untuk mengikuti perkuliahan, dan mendapatkan gelar, yang tentu saja itu akan menjadi pencapaian tertinggi dalam hidup mereka. Namun, bagaimana jika kelulusan mereka terganjal oleh ketidakmudahan mengakses informasi? Bahkan untuk mengikuti perkuliahan saja tidak mampu. Saya sudah menyaksikan sendiri, salah seorang mahasiswa mu yang tunanetra itu mengikuti perkuliahan praktek komputer namun hanya diam saja di laboratorium, mendengarkan penjelasan dosen didepan yang mengacu pada apa yang ditampilkan oleh layar proyektor yang tersambung ke komputer dosen. Bagaimana ia, si mahasiswa tunanetra ini, dapat melihatnya? Bagaimana ia bisa mengikuti perkuliahan praktek tersebut jika laboratorium mu saja tidak memiliki perangkat lunak yang mendukung para tunanetra agar bisa melakukan pekerjaan dengan komputer? Misalnya saja, perangkat lunak bernama J*WS itu. Iya, itu berbayar memang. Tidak gratis, dan tidak murah. Tapi versi open source nya ada koq. Dan untuk sampai saat ini, masih mudah mendapatkannya secara gratis. Bisa dikembangkan juga oleh mahasiswa-mahasiswi mu yang berminat di bidang tersebut. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui bukan? Mahasiswa tunanetra bisa belajar dengan cukup mudah, dan yang lainnya bisa belajar mengembangkan perangkat lunak yang tentunya akan membantu banyak sekali orang diluar sana. Masa, untuk pengadaan kerjasama dengan vendor produk propietary internasional saja kamu mampu, tapi memberikan sistem penunjang untuk pembelajaran mahasiswa yang kurang mampu seperti para tunanetra ini kamu tidak mampu? Kalau begitu, berikan saja mahasiswa-mahasiswi mu itu sistem gratis. Supaya mereka yang masih normal itu juga berusaha keras. Seperti yang dilakukan teman-teman tunanetra yang ada dikampusmu ini.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Masih tentang mahasiswa tunanetra tersebut. Bagaimana dengan hak-hak yang seharusnya ia dapatkan itu? Setelah ia membayar sekian ratus ribu, tapi ia tidak mendapatkan apapun dikampus. Hanya lelah, dan buang waktu. Dirumah, ia malahan bisa berkumpul dengan keluarganya. Terlindung dari segala bahaya yang ada dijalan dan dimana-mana. Tak tahukah engkau, seberapa besar usaha yang ia keluarkan hanya untuk berangkat ke kampus? Yang bahkan buat sebagian besar mahasiswa normal saja merasa malas melakukannya padahal mereka mampu. Ah, jujur saya merasa malu, karena saya pun terkadang masih sering membolos dan TA (Titip Absen) pada teman sekelas karena ada “hal penting” lainnya. Tak tahukah engkau, bahwa untuk berangkat ke kampus saja mereka bertaruh nyawa? Berdesak-desakan naik bus, dengan mata yang tidak bisa melihat. Kadang, jika uangnya kurang untuk membayar ongkos bus, ia menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mencari uang yang cukup. Untuk naik dan turun kendaraan umum, tentu saja dia membutuhkan waktu yang lebih lama 2-3 kali lipat dari manusia normal lainnya. Naik kendaraan bermotor sendiri? Mana mungkin! membonceng teman atau saudara sih masih mungkin. Lalu, semua usaha keras itu hanya dibayar dengan melongo diruang laboratorium komputer? Ketika ia ujian, dan tidak bisa datang karena tidak ada teman yang memberitahu pun, salahkah ia? Ikut ujian susulan pun ia tidak bisa apa-apa, karena perangkat lunak yang tidak mendukung. Kewajibannya sudah kamu tuntut dari awal, namun sudahkah hak-hak nya engkau berikan? Sebagaimana yang pantas ia dapatkan?
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Kembali lagi soal kreatifitas. Organisasi kami,peminat dibidang IT dan open source khususnya, adalah organisasi kecil dibawah naungan fakultas. Yang bahkan UKM lain kebanyakan tidak tahu tentang kami. UKM lain yang ada dibawah naungan universitas itu dukungannya besar. Bahkan UKM olahraga memukul bulu bebek pun dapat dukungan yang besar. Tidak masalah, toh itu gunanya mahasiswa-mahasiswi mu membayar uang kuliah setiap semester nya, kan..? Namun, bagaimana hak-hak organisasi kecil seperti kami ini? Toh kami juga membayar setiap semesternya, lho.. Ketika ada biro penilaian universitas yang hasilnya menentukan apakah universitas tersebut layak mendapatkan nilai “baik”, kami di elus-elus. Disuruh membuat workshop, supaya ketika tim penilai datang, mereka bisa melihat bahwa kamu mendukung semua kegiatan mahasiswa mu untuk maju bersama. Supaya kamu mendapat nilai yang tinggi, dan menarik minat calon mahasiswa lain. Menambah korban, eh? Kasihan mereka yang tidak tahu pembodohan apa yang kamu lakukan. Yang sudah tahu? Terjebak untuk lebih lama lulus karena sistem absensi 75% itu.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Masih soal organisasi kami. Belum lama ini kami kehilangan sebuah PC Server dengan spesifikasi yang cukup tinggi. Sebut saja monitor LCD, processor Core 2 Quad, HDD 2TB, dsb dst dll. Kalau mau dihitung sih, nilainya melebihi harga baru satu (1) unit motor bebek 4-tak buatan perusahaan Negeri Matahari Terbit itu. Yah, tentu saja uang untuk membelinya BUKAN dari kamu. Impossible untuk direalisasikan soalnya.
Kalau menunggu kamu untuk memberi kami fasilitas itu sih, mungkin seperti menunggu kucing bisa berdiri tegak. Tapi, kami tiba-tiba mendapat musibah, akibat keteledoran mahasiswa mu dan juga pelayanan keamananmu yang kurang. Dan kemudian, engkau berjanji untuk memberi penggantian. Kira-kira berapa bulan yang lalu ya, janji itu keluar? Apa mungkin, akan ditepati sebelum saya lulus dari kampus mu? Sekitar 2 tahun lagi, eh? Kembali ke statement saya, mungkin itu seperti menunggu kucing bisa berdiri tegak. Sepertinya, kamu tidak usah berjanji yang muluk-muluk untuk memberikan fasilitas seperti itu kepada kami, koq. Cukup penuhi janjimu yang terdahulu saja untuk memberikan fasilitas dana penunjang kegiatan kreatif kami. Selebihnya? Kami masih bisa berkarya dengan peralatan yang sederhana.
Sekedar saran, gunakanlah sistem penunjang keamanan yang cukup modern dan tepat, CCTV (closed-circuit television) misalnya. Tapi bukan sekedar CCTV yang “ASAL ADA PUN GAK MASALAH” seperti yang sekarang ini. Tapi CCTV yang memang bisa dijamin keakuratannya. Hasil gambarnya baik, berwarna, jernih, dan tidak putus-putus. Serta data hasil pengambilan gambarnya bisa diakses kapan saja. Tentu saja memberi pekerjaan bagi para satpam yang ada di pos-pos itu, daripada mereka hanya tidur-tiduran di jam kerja/jaga, bahkan sampai benar-benar tertidur karena kopi mereka habis, atau karena suguhan gorengan yang datang entah darimana.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Sistem informasi akademik milikmu itu, tolong diperbaiki. Saya rasa tidak susah koq, jika memang serius memberikan pelayanan akademik online untuk mahasiswa. Tidak seperti sekarang, sistem yang susah dibuka karena berat, tidak mendukung pengguna ponsel, kadang malah error, tidak mau menginput data yang benar padahal sudah diinput dengan benar. Tidak mendukung pengguna yang fakir bandwith, pula. Harus jauh-jauh ke warnet hanya untuk mengakses data dari sistem? Ahh, sangat-sangat tidak user-friendly. Mana itu penerapan web yang baik yang kamu berikan di mata kuliah Pemrograman Web? Nggak ada satupun yang nyangkut didalam sistem akademik online mu itu. Sedikit saran, sebaiknya programmer web mu belajar CSS atau HTML lagi saja, daripada terus-terusan mendapat komplain berkepanjangan dari mahasiswa. Saya melihat, di roll-text selalu saja yang ada hanya komplain mahasiswa tentang betapa buruknya sistem ini. Ah ya, mungkin kami hanya mahasiswa yang cuma bisa berkoar-koar tentang mana idealisme yang baik atau buruk. Tapi bener deh, daripada itu sistem mudah sekali diserang karena minusnya pengamanan didalamnya. Okay?
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Kesejahteraan karyawanmu, sudahkah engkau perhatikan? Lebih kau utamakan daripada kesejahteraan pemilikmu sendiri? Pemilikmu, jujur saja, sudah cukup sejahtera. Kenapa tak kamu minta agar ia memberikan kesejahteraan juga untuk karyawanmu? Jika itu diberikan, bukan tidak mungkin kualitas kerja mereka akan meningkat. Efek lebih jauhnya, kualitas lulusan yang kampusmu hasilkan juga akan meningkat. Tentunya akan menambah kepercayaan banyak orang tua untuk menguliahkan anak-anaknya di kampusmu, bukan? Tak berpikirkah engkau sampai kesana? Oh baiklah, mungkin kau tak bisa berpikir sendiri. Jadi, kenapa tak kau minta para petinggi-petinggi universitas ini untuk bertindak? Itupun jika kamau tak ingin hancur begitu saja karena terpana silau sesaat.Karyawan yang sudah meninggalkanmu? Banyak. Karyawan yang tak bisa meninggalkanmu karena suatu alasan? Lebih banyak lagi. Kalau mau dikatakan, karyawan yang bekerja karena loyalitas terhadap universitas atau karena jiwa sebagai “pendidik” itu, tidak ada. karena merasa kurang dihargai, mungkin.
Dear Kampus Biru Di Tengah Kota Semarang,
Tolonglah, jangan melulu memberi kami janji-janji manis belaka. Manis didepan, pahit dibelakang. Kami ini datang ke kamu untuk menimba ilmu. Dan uang yang sudah kami keluarkan tidak sedikit. Usaha yang kami lakukan juga tidak jauh beda dengan mahasiswa-mahasiswi kampus swasta lainnya. Tapi kenapa kamu tidak memberikan apa yang sudah seharusnya jadi hak kami? Kalau boleh dibilang, banyak koq dari kami yang orang tuanya mampu menguliahkan kami di kampus-kampus bergengsi di luar kota ini. Tapi orang tua – orang tua ini tidak mau jauh dari anak-anaknya. Maka dari itu, mereka mempercayakan kamu untuk mendidik anak-anaknya. Tolong kepercayaan itu jangan disalahgunakan. Tidak sedikit orang tua yang juga sudah tahu masalah yang ada didalam kampusmu ini. Tapi mereka terpaksa meneruskan kuliah anaknya. Satu, mungkin karena sudah terlalu banyak biaya yang dikeluarkan, namun hasilnya wassalam. Dua, mungkin karena waktu lulus yang tinggal sedikit saja, sehingga sayang kalau harus keluar dan pindah ke kampus lain, namun mengulang dari awal lagi. Sayang biaya dan waktu, tentu saja! Tolong hormati itu. Biaya, atau uang, masih bisa dicari. Tapi waktu, jika sudah berlalu, tidak bisa diputar lagi. Benar, kan?
Wahai Kampus Biru Tercinta,
Masih ada waktu untuk membenahi ini semua satu persatu, sebelum makin parah. Saya melakukan ini, juga demi kebaikan kita semua. Saya pun mempercayakan pendidikan saya ke kamu. Juga pendidikan adik saya ke kamu. Tidak cuma kami berdua yang sudah kecewa atas apa yang terjadi. Ada banyak kami-kami yang lain yang juga kecewa atas carut-marut nya sistem pendidikan yang kamu berikan. Lalu, apakah kebobrokan ini mau dibiarkan begitu saja? Jangan… Tentu kamu yang akan menderita kerugian paling besar, bukan kami…