Bekerja untuk seseorang ataupun untuk suatu instansi/organisasi itu jelas berbeda jika ditilik dari kadar KEWAJIBAN dan HAK nya. Jelas kan, ya? Anda tidak bisa menuntut hak jika kewajiban anda belum diselesaikan. Itu melanggar prinsip keseimbangan *halah*
Ini kasus pertama. Sore ini, ada seorang teman yang sedang bingung. Ia ditawari oleh pimpinannya untuk pindah ke divisi yang lain. Pilihan yang dihadapinya sebenarnya cukup mudah. Bekerja di bidang yang dikuasai namun gajinya pas-pasan, atau pindah ke bidang lain yang tidak terlalu dikuasai namun gajinya bisa digunakan untuk foya-foya. ![]()
Cukup simpel? Buat saya tidak. Itu tidak semudah yang saya bayangkan, rasanya. How could? Think about this! Jika saya yang diminta untuk memilih, mungkin saya akan memilih untuk bekerja pada bidang yang saya sukai dan saya kuasai walaupun gajinya pas-pasan untuk saya. Why? Karena kebutuhan saya sudah bisa dipenuhi oleh gaji saya saat ini. Saya yakin, jika saya bisa me-manage semua pengeluaran agar bisa balanced dengan pemasukan, maka masalah yang timbul tak banyak bertambah.
Lain halnya dengan jika memilih untuk bekerja di bidang yang belum dikuasai tetapi memberikan gaji yang bisa digunakan untuk sedikit bersenang-senang. Oke, gajinya besar. Bisa membeli banyak hal dengan gaji yang didapatkan, atau mungkin saya bisa memulai berinvestasi untuk masa depan. Tapi tidak terlalu menikmati pekerjaan yang ada. Awalnya karena tidak menguasai, lalu terpaksa harus belajar dari awal. Otodidak. Tanggung jawab yang harus dipikul berkali lipat dibanding sebelumnya. Dan biasanya, banyak orang akan merasa tidak enjoy dengan pekerjaan tersebut. Efek sampingnya apa? Nggak lain nggak bukan adalah stress berkepanjangan, sering marah-marah, tertekan, dan pola hidup terganggu karena dikejar-kejar tanggung jawab.
Yang perlu diingat adalah, jika menginginkan suatu pencapaian yang besar, jangan pernah meninggalkan tanggung jawab dan kewajiban. Lalu, jika suatu waktu nanti merasa tidak lagi bisa menikmati pekerjaan itu lagi, maka mulailah berpikir kreatif. Kreatif dalam hal apa? Kalau sudah mentok, tidak bisa bekerja lagi, ya buat apa diteruskan? Toh tidak akan menghasilkan apa-apa kan. Mulai mencari pekerjaan ditempat yang lain, mungkin bisa jadi satu jalan keluar. Dengan catatan, sebelum keluar dari pekerjaan yang lama, harus sudah tahu apa yang ingin dikerjakan. Hanya untuk berjaga-jaga. First case : CLOSED!
Ada kasus kedua. Seorang teman bekerja pada sebuah perusahaan asing yang memiliki kantor cabang di negeri ini. Dia karyawan baru disana. Dan normalnya newbie, tentu saja dia tidak berani melakukan hal-hal tidak biasa.
Pernah beberapa kali ia berkata kepada saya bahwa ia menginap dikantor dikarenakan task yang diberikan belum selesai juga. Okay, dalam kepala saya tertulis kata LEMBUR. Buat dia pun demikian. Iseng saya bertanya, “Kamu koq lembur terusan sih? Uang lemburnya besar yha?
” Dengan gamblangnya dia menjawab “Ndak ada uang lembur koq!”
Pikir saya : Hah?? Kerja ekstra tanpa digaji??
Mulia sekali kau, nak. Dan dasarnya saya emang suka mendebat sana-sini, dia juga yang jadi sasaran. Ujung-ujungnya, dia berkata bahwa itu bukan saatnya saya ceramah, dan itu adalah tanggung jawab dia. Okay, well! Silahkan saja kamu teruskan apa yang kamu rasa sebagai tanggung jawab. Saya kan cuma iseng bertanya ![]()
Buat saya pribadi, saya memang belum pernah merasakan pekerjaan yang penuh dengan tekanan dan tanggung jawab ekstra seperti yang dialami teman saya itu. Tapi dari dia juga lah saya belajar bahwa, apa yang saya kerjakan memang sudah jadi tanggung jawab saya. Dan jika tanggung jawab alias kewajiban saya itu sudah saya kerjakan, maka sepantasnyalah jika saya menuntut agar hak itu diberikan. Termasuk jam kerja ekstra alias LEMBUR di kantor. Yaaa, itu kan termasuk bagian dari hak saya, bukan? Tapi ya sudahlah. Itu juga hak kamu untuk tidak meminta hak kamu yang lain (haha). Second case : CLOSED!
Kasus ketiga dan terakhir adalah, salah seorang dari teman saya bekerja. Bisa dibilang, ini memang bukan pekerjaan yang terikat pada kontrak dan hukum yang jelas tentang ketenagakerjaan. Pekerjaan apakah itu? MC a.k.a Master of Ceremony a.k.a Pembawa Acara. Teman saya itu beberapa bulan yang lalu ‘disewa’ sebagai MC untuk sebuah acara yang *katanya* hanya sebagai media berbagi, bukan acara yang profitable. Okay, memang untuk beberapa saat belakangan ini banyak sekali diadakan acara-acara yang tujuannya sebagai sarana berbagi, bukan sarana mengeruk keuntungan. Ya, kan? Tapi sekarang, bagaimana tidak bisa dibilang tidak mengeruk keuntungan jika acara tersebut disponsori oleh vendor besar dan banyak diberikan hadiah doorprize kepada para peserta. Dan masa iya, pengelola acara tersebut tidak kecipratan sedikit pun? Masa iya rela mengadakan acara non-profitable, hingga dibela-belain keluar kota untuk mengadakan roadshow acara tersebut? Masa iya, rela merogoh kocek sendiri untuk ongkos keluar kota? Saya bukannya mencerca niat baiknya untuk berbagi, sesuai motto acara itu. Hanya saja, nasib teman saya bagaimana?
Kenapa disini yang saya permasalahkan adalah teman saya? Ada apa dengan teman saya? Pendeknya, teman saya TIDAK DIBAYAR sebagai MC. Padahal, teman saya itu sedang berada diluar kota pada H-1 sebelum acara. Yang mana, kota tempat dia berada saat itu jaraknya 5 jam perjalanan dengan berkendara bus antar kota. Bayangkan saja? Teman saya rela pergi sejauh itu untuk sebuah pekerjaan yang sudah dilakukan, tapi TIDAK DIBAYAR. Dia melaksanakan kewajibannya sesuai yang disepakati oleh pihak penyelenggara acara, namun ia tidak mendapatkan HAK yang sudah seharusnya ia terima. Waaahh! Kalau yang ini tentu saja berbagi tapi merugi… (lmao) (ninja)
update : Temenku itu akhirnya dibayar setelah sekian bulan, dengan alesan pengelolanya LUPA (idiot) Lha sering ketemu, sering tongkrong bareng koq bisa lupa!! (nottalking)
gambar diambil dari sini dan sini




sebelum baca, harap lihat halaman DISCLAIMER dulu yha (goodluck)
[Balas]
Wah kasus ku harusnya jadi yang ke-4 ni cha?

[Balas]
ocha Balasan:
February 5th, 2010 at 5:27 pm
@okky, kasus opo e, mbak? (bigeyes)
[Balas]
hmm… (thinking)
[Balas]
heheh… kasian ya temannya yg dikasus terakhir…
saya kalo di kasus yang pertama saya akan pilih ke bidang yg belum dikuasai itu, pikiran saya tertuju kepada pelajaran baru, tantangan baru dan pengetahuan baru yg akan saya hadapi… kalo masalah gaji… itu nomor sekianlah…
hehehehe
tapi toh, apapun pekerjaannya, sesulit apapun asal halal, sebaiknya dicintai saja…
.-= Cerita terbaru dari bandit™ di blognya adalah…Truth or Dare 1: Gek…! =-.
[Balas]
ocha Balasan:
February 6th, 2010 at 9:46 pm
@bandit™, naaahh! kalo daku, kadang memang ngerasa tertantang dengan pekerjaan baru yg diberikan…tapi kalo memang bidang yg baru itu bertolak belakang dengan bidang yg sebelumnya, gimana donk, aron? (eyeroll)
[Balas]
bandit™ Balasan:
February 8th, 2010 at 6:19 am
@ocha, kan bisa belajar..! hehehe kadang kita juga dapat pelajraan terbaik dari melakukan hal yg sangat bertolak belakang dgn pekerjaan sebelumnya…
nih saya hr senin masuk kerja rasanya kurang bersemangat ketemu kerjaan yg itu-itu mulu….
pingin “yg bertolak belakang itu”…
.-= Cerita terbaru dari bandit™ di blognya adalah…Pengalaman Bersepeda…! =-.
[Balas]
menurut gue, ga semua pekerjaan perlu dilakukan. untuk menyeleksi, tanya “what’s in it for me?”. kalo ga dibayar, mungkin ini acara bagus buat branding, atau mungkin banyak relasi yg bisa didapat, dll. kl dibayar, apa bayarannya sesuai dengan kredibilitas dan reputasi kita, dll.
gue hanya mau ga dibayar kl ada “sesuatu” yg bisa gue dapet. dan ada satu pengecualian, yaitu acara charity (money)
[Balas]
ocha Balasan:
February 6th, 2010 at 9:43 pm
@elia|bintang, lain masalahnya kalo soal charity, el…kalo acara yang itu sih, tau sama tau, itu acara yg cukup profitable, buat pengelolanya…dan kredibilitas temenku sebagai MC bagus koq! ex putra-putri semarang terpilih.. *lupa namanya*
[Balas]
saya bekerja sesuai bidang saya, under-pressure, dan tak ada fee buat lembur
amp; tapi saya pikir, yaa sudahlah, anggap aja bagian dari dedikasi saya terhadap pekerjaan (goodluck)
saya pernah bekerja di bidang yang bukan keahlian saya. saya kudu belajar dari awal, dari titik nol, dan saya sampe merasa depresi. jadinya untuk kasus nomer 1, saya lebih milih opsi bekerja sesuai spesifikasi saya
.-= Cerita terbaru dari Kuroyanagi di blognya adalah…Chapter 15 : An Introduction to Albert =-.
[Balas]
ocha Balasan:
February 7th, 2010 at 9:30 pm
@Kuroyanagi, daku jugaaaa (yahoo)
[Balas]
saiia suka skrinsut2 nya
huehehe…
kunjungan perdana nii sepertinya saiia di sini iia?!?!?!? hmm….
[Balas]
Kalau kerja coder dan penerjemah kayak aku sih cuma pake prinsip, “Lo butuh.. Gw kerjain. Lo suka.. Lo bayar”
[Balas]
ocha Balasan:
February 14th, 2010 at 10:52 am
@Anggie, nah! Itu kan beda prinsip…
[Balas]
kalau saya ditegaskan mungkin saya akan berada di nomer 2, hehe, maklum kalau memang itu kewajiban sudah saya pegang, ya tentu dikerjakan walau gk make uang lembur, kalau gk kuat tinggal pindah ke pekerjaan yang lebih ringan dari sebelumnya…
[Balas]
*menunggu dirimu berada di salah satu kondisi* (lmao)
.-= Cerita terbaru dari ael di blognya adalah…Surat untuk (Suporter) Sepakbola Indonesia =-.
[Balas]
wah kasus yang ketiga.. kasian juga, padahal pengorbanannya udah cukup besar yaa..
hemmh.. ternyata cerita “di balik layar”nya ada yg begitu.. (doh)
btw theme mu apik bangeet cha.. bikin sendiri? aku pengeen! (idiot)
.-= Cerita terbaru dari jojo di blognya adalah…Training dan Edukasi Gratis Perawatan Kulit dengan Facial Organik =-.
[Balas]
ocha Balasan:
February 12th, 2010 at 2:57 am
@jojo, mari bikiiiiinnn (yahoo) (funkydance)
[Balas]
ada gak, kerjaan yg kita sukai sekaligus gajinya gede? aku gak mau milih. syaratnya harus dua itu pokoknya
[Balas]
ocha Balasan:
February 14th, 2010 at 10:56 am
@venus, kalo menurutku, ada tuh mbok…satu pekerjaan yang cuma kaum kita yang bisa dan bayarannya gede…jadi IBU! pekerjaan yang disukai? yang ga suka berarti ga normal… gaji besar? dalam hal ini bukan uang, memang…
*dikeplak simbok*
.-= Cerita terbaru dari ocha di blognya adalah…Relevansi Antara Hak & Kewajiban =-.
[Balas]
di perusahaanku ada aturan bahwa surat iji dokter, ijin pulwng kerja… mereka tidak boleh ikut lembur hari sabtu. padahal nilai plus dari buruh adalah ketika dia dapat lemburan. sebagi pengurus serikat pekerja apa yg harus aku akukan untuk merubah kebijakan management ini??
[Balas]